Sahabat, Dimana Kau Berada
Sejak kecil aku sendiri, hingga aku mulai masuk Sekolah Dasar, barulah aku memiliki teman, itu juga hanya sebatas teman di sekolah. Oiya hampir lupa aku juga punya teman dekat danakrab, yang mana selalu bersama. Tapi sayang kebersamaan aku dan dia berakhir pada tahun 1995 karena dia meninggal dunia karena sakit.
Sejak itu aku mulai sendiri lagi, sampai-sampai aku merasa ketakutan sendiri untuk mencari teman yang selalu bersama dan akrab kembali. Setelah tamat Sekolah Dasar, aku melanjutkan ke SLTPSMPK aku sudah merasa baikan, buktinya aku bisa berteman dengan siapa sajah, yaa…. paling tidak selama di Sekolah, karena memang aku sekolah dari pagi sampai sore hari jam 16.30. Tapi begitu sudah sampai di rumah, aku tidak lagi keluar untuk main, aku dikamar, tanpa TV, yang ada hanya buku-buku yang menemani. Ini aku jalani selama di bangku SLTP.
Lain ceritanya setelah aku masuk MASMPK, sekolah dari pagi sampai jam 22.00 jadi aku ambil untuk menetap di asrama sekolah. Aku jadi merasa bebas dan bisa bermain dengan teman-teman di sekolah dan di asrama, pokoknya seneng banget. Tapi untuk tahun pertama aku masih sering pulang, meski malam hari, jauh dan bersepeda. Aku lebih merasa baik bila di rumah sendiri.
Tahun ajaran baru tiba, itu artinya akan banyak adik-adik yang masuk ke sekolah ini dan sekolah ini sebenarnya merupakan komplek pendidikan, jadi di dalamnya terdapat berbagai jenjang pendidikan (SDSMPK, MTsSMPK, SLTPSM2PK, MASMPK) semuanya berada dalam satu lokasi sekolah, jadi tidak lagi ada perbedaan dan berteman dengan siapa saja boleh, di Asrama juga bersama-sama, hanya ada ketentuan, saling membantu dan tidak saling mengganggu satu sama lain. Saat tahun pelajaran baru dimulai aku kenal dengan anak MTsSMPK (karena aku dapat kesempatan mengajar) dia bernama “NASRUDIN”. Aku seneng banget begitu kenal dengan Dia, kalau digambarkan anaknya imut, pipinya bulat, dan lucu banget dech.
Sejak saat itu aku mulai akrab dengan Dia, aku selalu bersama dia. Aku dan dia bahkan seperti saudara, dia panggil aku “Kakak” dan aku panggil dia “Adhe”. Kami di asrama selalu bersama (makan, tidur, belajar, main, dan untuk pulang ke rumah juga aku ikut ke dia atau sebaliknya) pokoknya gak mau dipisahkan. Ada yang terjadi bila kami dipisahkan dalam sehari saja, yang pasti kami berdua tidak nafsu makan, dan aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh dia begitu juga sebaliknya.
Pernah suatu hari, Adhe tidak kembali ke sekolah karena sakit, aku langsung jatuh sakit juga, pihak sekolah menelpon aku dirumah, pihak sekolah mengira aku dah janjian untuk tidak masuk sekolah bersama. Pihak sekolah juga heran dengan Aku dan Adhe. Kelas kami terpisah, tapi aku bisa mengetahui kalau Adhe kena hukuman atau mendapat kesulitan dalam kelas, kami seperti memiliki ikatan batin. Aku juga jadi jarang masuk kelas dan di selas sering gak fokus. Dimana Adhe berada aku dapat mengetahui keadaannya.
Tapi sayang Nasrudin hanya sekolah sampai kelas 2 sajah, Dia memilih keluar (berhenti) karena aku telah selesai (tamat) sekolah, aku yang kehilangan menangis dan tidak masuk kelas selama 5 hari. aku menyempatkan diri berkunjung ke rumah Adhe, dan itu merupakan pertemuan aku yang terakhir dengan Adhe. Adhe ikut ke bapa’ ke Jakarta untuk cari kerja dan aku sendiri juga mencoba untuk mencari kerja.
Kami terpisah selama 4 tahun, tidak tahu kabar satu sama lain. Dan yang menggembirakan setelah selama itu Aku pulang dan main ke Asrama sekolah, ada anak yang satu desan dengan Adhe, bahkan masih saudara Adhe (namanya “Nana”), aku hampir menemukan Adhe kembali, untuk memudahkan aku menitipkan no. HP ke Nana untuk dikasihkan ke Adhe. Tidak aku sangka begitu Adhe menerima pesan itu, Adhe langsung menelpon aku, aku atur pertemuan Aku dengan Adhe, dan yang aku tahu adhe sudah tidak seperti dulu lagi (berubah), tapi Adhe masih sayang ma aku dan Adhe juga merasakan apa yang aku rasakan.
Sejak pertemuan itu Kami berpisah lagih dan sekarang nggak tahu Adhe dimana?
Kangen, Angga


